Profil K.H Imam Muzani Bunyamin

K.H Imam Muzani, demikian nama lengkapnya. Beliau adalah pendiri pondok Pesantren Darussa’adah yang bertempat di Bulus, Kritig, Petanahan, Kebumen. Beliau lahir pada 11 September 1951, sosok sumeh (ramah) dan penuh kharismatik. Beliau terlahir sebagai anak ketiga dari tujuh bersaudara. Tempat tinggalnya di Susukan, Cirebon.

Dibawah asuhan KH. Bunyamin dan Nyai Sa’adah, Imam Muzani kecil menikmati masa keceriaan dimasa belia penuh dengan pendidikan sebagai anak yang terlahir dikalangan orang alim. Beliau mendapat pendidikan yang lebih dibandingkan dengan anak-anak lain seusianya.

Kepada kakeknya; KH Abdul Syukur, yang merupakan murid Kyai Idris Jamsaren Solo, beliau banyak menimba berbagai ilmu dasar keislaman, utamanya membaca Al Qur’an. Asuhan intensif kakeknya menjadikan Muzani kecil sebagai sosok yang gandrung mengaji dan beribadah. Sehingga di usianya yang masih belia sudah tampak terbukti kepintaran dan kemahirannya dalam masalah agama dan memiliki akhlak mulia, sopan santun yang luhur dibandingkan dengan teman sebayanya.

Kecintaan beliau akan mengaji yang terbentuk sejak dini, mulai menemukan kematangannya manakala beliau dididik oleh orang tuanya sendiri; KH. Bunyamin setelah tamat Sekolah Rakyat (SR); setingkat SD, pada tahun 1963. Beliau tidak melanjutkan pendidikan formal ke jenjang berikutnya, karena pada waktu mengikuti ujian pendaftaran yang seharusnya dilakukan dua kali, beliau hanya bisa mengikuti sekali. Akhirnya beliaupun memutuskan untuk memilih terjun dan mendalami ilmu bidang keagamaan. Mulai dari sinilah Imam Muzani memfokuskan diri dan menekuni dalam bidang ilmu keagamaan.

Hari-hari beliau diisi dengan mengkaji kitab-kitab kuning dan hafalan. Ketekunan, keprihatinan dan kedisiplinannya selalu mendapatkan pengawasan khusus dari ayahnya. Maka tidak aneh jika dalam usia yang masih sangat muda, Imam Muzani mampu menghafal dan menguasai kitab Alfiyah (seribu bait) dengan baik. Menurutnya, didikan orang tua sangat membekas sampai sekarang.

Merasa belum cukup dengan apa yang ia miliki, maka pada tahun 1968 KH. Muzani memperluas cakrawala ilmu agama dengan berkelana ke berbagai Pondok pesantren, seperti Lirboyo (Jatim). Pondok ini menjadi tujuan pertama dalam memperluas ilmunya. Selama kurang lebih dua tahun di Lirboyo kemudian melanjutkan ke Ploso selama empat belas bulan. Dalam tujuan pencarian ilmunya beliau kemudian meneruskan ke Pesantren Lirap, Petanahan, Kebumen yang saat itu di asuh oleh K.H. Durmuji Ibrohim.

Setelah selesai, beliau meneruskan untuk bertabaruk pada Kyai Qulyubi di Solo dan Kyai Chumeidi di Kaliwungu. Tahun 1974 beliau pindah ke pesantren Cidanu, Radasari, Pandegelang, Banten yang saat itu diasuh oleh Syekh Dimyati. Pada Juli 1975 beliau didawuhi oleh gurunya (Syekh Dimyati) untuk mencari kitab Al Umm (kitab karangan Imam Syafi’i RA). Dua puluh eksemplar dari kitab Al Umm beliau dapatkan. Belum sempat dikajinya, KH. Durmuji Ibrohim, pengasuh Pondok Pesantren Miftahul Ulum lirap datang menemui Syekh Dimyati tentang keinginannya mengambil Imam Muzani sebagai menantunya. Setelah mendapat persetujuan dari ayahnya, KH Imam Muzani mendengar kabar baik itu. Tanpa basa basi, Syekh Dimyati menyuruh KH. Imam Muzani untuk segera menikah.

Menanggapi keputusan gurunya, beliau sempat protes akan masalah kitab Al Umm yang akan dipelajarinya. Berkat kebijaksanaan gurunya yang tetap memojokkan dengan berkata “wis kitab Al Umm-e diganti bojo wae“, akhirnya beliaupun mengikuti dawuh gurunya. Tepat bulan Agustus 1975, beliau resmi menikah dengan putri KH. Durmuji Ibrahim sekaligus menetap di kediaman mertuanya (di ponpes. Miftahul Ulum, Lirap).

Setelah Selama kurang lebih sepuluh tahun dari tahun 1975 sampai 1985 berkhidmah (mengabdi) di rumah mertua, KH. Imam Muzani minta izin untuk membangun rumah di daerah Bulus desa Kritig. Sang mertua yang sekaligus gurunya  pun mengizinkan. Maka berdirilah sebuah rumah ukuran 13 x 14 m. Merasa mendapat tuntutan dari masyarakat untuk menyebarkan agama, KH. Imam Muzani Bunyamin meminta izin kembali untuk mendirikan pesantren putri. Inilah cikal bakal berdirinya Pondok Pesantren Putra dan Putri.Darussa’adah.

Sumber : okepos.blogspot.com

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel